Muharram Bulan Allah yang Mulia

(Download pdf: https://archive.org/details/BuletinAlHidayahThn08 )

Segala puji bagi Allah, sholawat dan ‎salam atas Rasulullah.‎

Baru saja bulan Muharram menghampiri kita, menandakan berakhirnya ‎suatu tahun dan datangnya tahun berikutnya. Hari, bulan, dan tahun tidak terasa begitu ‎cepat berlalu, mengingatkan kepada kita hakekat dunia yang fana ini. Hanya kehidupan akheratlah yang kekal lagi abadi.

Sungguh beruntung orang-‎orang yang memahami hakekat kehidupan dunia ini. Mereka tidak lena dengan ‎gemerlapnya dunia karena mereka yakin pasti semua itu akan berlalu, sebagaimana berlalunya ‎hari-hari. Mereka juga tidak juga lengah untuk berbekal untuk hari esok di alam akhirat ‎karena mereka yakin pasti akan sampai padanya cepat atau lambat.‎

Seorang muslim hendaknya ‎selalu bersemangat dalam kebaikan. Berpindah dari suatu amalan / pekerjaan yang bermanfaat kepada ‎amalan / pekerjaan yang lainnya. Allah ta’ala berfirman,‎

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh ‎‎(urusan) yang lain.  (QS Al Insyirah: 7)‎

 

Keutamaan bulan Muharram

Diantara keutamaan bulan Muharram sebagaimana yang ‎dikatakan Imam Nawawi bahwa Nabi menyebut bulan Muharram dengan syahrullahi (bulan Allah). Idhofah (penyandaran) dengan nama Allah ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan tersendiri. Sebagaimana disandarkannya nama Muhammad, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan ‎lainnya dari kalangan para nabi dengan istilah hambaNya. Begitu pula juga dengan baitullah, dan onta Allah ‎‎[ Latho’if al Ma’arif hal. 90].

Muharram termasuk satu diantara empat bulan yang dimuliakan dalam islam sebagaimana ‎dalam hadits dari Abu Bakroh radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,‎ “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ‎itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan yang diharamkan (disucikan). Tiga ‎bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan Rajab Mudhor yang ‎terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” [HR. Bukhari (3025), Muslim (4477)] ‎

Keutamaan Puasa Muharram

Salah satu keutamaan bulan Muharram juga adalah bahwasanya puasa di dalamya adalah ‎seutama-utama puasa setelah bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‎

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمِ

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) bulan Allah yang bernama ‎Muharram. [‎HR. Muslim (747)‎]‎

Untuk itu hendaknya seorang muslim memperbanyak puasa di bulan al Muharram sesuai dengan ‎kemampuan yang dimiliki. Terutama puasa di hari Asyura serta sehari sebelum dan sesudahnya.‎

Puasa Asyura (10 Muharram)‎

Puasa Asyura memiliki keistimewaan di kalangan orang-orang arab Quraisy sejak zaman jahiliyah. ‎Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Dahulu di zaman jahiliyah orang-orang Quraisy berpuasa ‎pada hari Asyura, dan Rasulullah juga berpuasa padanya di masa jahiliyah, saat hijrah ke ‎Madinah Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa padanya. Saat datang kewajiban puasa ‎Ramadhan maka beliau meninggalkan hari Asyura, barangsiapa mau maka silahkan berpuasa, ‎bagi yang tidak maka tinggalkanlah [HR Bukhari (2002), Muslim (1125)]. Puasa Asyura memiliki banyak keutamaan. Diantaranya ‎sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang ‎puasa Asyura, maka beliau menjawab, “Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu.” [HR. Muslim (2804)]‎

Puasa dihari Kesembilan (tashu’ah) dan Kesebelas

Tentang puasa di hari kesembilan bulan Muharram terdapat hadits dari Rasulullah, beliau ‎bersabda, Andaikata aku masih menjumpai tahun depan niscaya aku akan puasa dihari ‎kesembilan [HR Muslim (2723)]. Imam Syafi’I dan para sahabatnya serta Imam Ahmad, Ishaq, dan lainnya berpendapat Disunnahkan puasa di hari kesembilan dan kesepuluh (di bulan Muharram) karena ‎Nabi puasa dihari kesepuluh dan berniat pula untuk puasa di hari kesembilan. Ibnu Qoyyim ‎rahimahullah berkata, Tingkatan puasa (di bulan Muharram) ada tiga: Yang paling sempurna ‎adalah berpuasa juga pada satu hari sebelum dan sesudahnya, lalu (tingkatan kedua) puasa di ‎hari kesembilan dan sepuluh dan banyak hadits tentang hal ini, lalu (tingkatan ketiga) yaitu puasa ‎hanya pada hari kesepuluh (hari Asyura) saja [Zaadul Ma’ad, cet Ar Risalah hal 2/76].‎

 

Penyimpangan di bulan Muharram dan di hari Asyura

Bulan muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah. Namun, perlu diketahui bahwa ‎dalam islam tidak ada syariat memperingati

tahun baru sebagaimana yang dikerjakan ‎sebagian orang Yahudi dan Nashara. Yang wajib dilakukan setiap muslim adalah hendaknya ia ‎senantiasa semangat beramal sesuai dengan apa yang diajarkan Rosulullah tanpa perlu menambah ‎atau mengurangi.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seputar penyimpangan di hari Asyura’, ‎Adapun semua perkara seperti membuat makanan tidak seperti pada hari-hari biasa seperti biji-‎bijian atau yang lainnya, atau memperbarui pakaian, atau membagi-bagikan sedekah, atau ‎membeli keperluan dalam setahun pada hari itu, atau mengerjakan ibadah khusus seperti shalat ‎khusus padanya, atau menyengaja menyembelih (karenanya), atau menghemat daging qurban ‎untuk dimasak dengan biji-bijian, atau bercelak atau mewarnai, atau mandi, atau bersalam-‎salaman, atau saling berkunjung, atau menziarahi masjid, kuburan, dan yang semisalnya maka ‎semua itu termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah tidak pula ‎Khalifah Ar Rasyidin dan juga disunnahkan oleh imam-imam kaum muslimin, tidak Malik, ats ‎Tsaury, Laits bis Sa’ad, Abu Hanifah, Auza’I, Syafi’I, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, ‎tidak pula yang semisal mereka dari kalangan imam dan ulama’ kaum muslimin [‎Majmu’ Fatawa (13/167)‎].‎

Semoga bermanfaat, Semoga sholawat dan salam tercurah atas Rosulullah, keluarga, sahabat dan pengikutnya.

 

*Artikel ini banyak mengambil faedah dari Kutaib Syahrullahi al Muharram Fadhluhu wa ‎Ahkamuhu karya Sulaiman bin Jasir bin AbdulKarim al Jasir hafidzahullah.‎ Disarikan oleh Abu Zakariya Sutrisno. Artikel: http://www.ukhuwahislamiah.com

Advertisements

About sutrisnoibrahim

student of knowledge
This entry was posted in buletin al hidayah and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s